Membentuk Individu Menjadi Pemain Tim

Pemain Tim

Salah satu faktor yang mempengaruhi kesuksesan kerja tim, adalah faktor komposisi tim, yakni mengenai orang-orang yang menjadi anggota dalam sebuah tim. Kendati berisikan pemain bintang, sebuah tim tak jarang mendapatkan hasil yang mengecewakan. Malah terkadang tim yang berisikan pemain yang biasa saja bisa mendapatkan hasil yang terbaik. Tak jarang juga, ada dalam sebuah tim ada yang berisikan individu yang individualis. Bagaimana kemudian cara membentuk individu menjadi pemain tim yang baik, dan mau berkontribusi kepada tim?

Pada dasarnya ada 3 tantangan utama dalam membentuk individu menjadi pemain yang hebat. Yang pertama adalah bagaimana mengatasi penolakan individu terhadap keanggotaan sebuah tim, melawan pengaruh individu tertentu yang dominan, dan bagaimana kemudian memperkenalkan tim dengan sistem yang menghargai prestasi individu.

3 tantangan utama ini bisa diatasi dengan 3 cara. Yang pertama adalah menetapkan proses seleksi, yakni dengan merekrut para karyawan-karyawan yang memiliki karakter yang kuat sebagai pemain tim. Namun sayangnya tak jarang juga, sebagai pemimpin disebuah tim, kita tidak memiliki kemewahan untuk memilih siapa saja yang dapat kita rekrut sebagai tim. Namun barang kali pada dasarnya menjaga keseimbangan komposisi tim yang kuat adalah sebuah keniscyaan.

Cara atau tahap kedua dapat dilakukan dengan memberikan training-training yang dapat membentuk karakter sebagai pemain tim. Training ini tidak hanya sebatas pada training formal, namun juga dapat dalam bentuk sosialisasi budaya yang berlaku, kebiasaan-kebiasaan yang berlaku, pola kerja yang diterapkan dalam tim.

Tahap paling terakhir adalah dengan memberikan reward yang mampu memotivasi seorang karyawan untuk menjadi karyawan yang memberikan kontribusi kepada tim. Reward ini tidak harus selalu berbentuk uang, tetapi juga dapat diberikan dalam bentuk yang paling sederhana seperti ucapan terimakasih, rasa pengakuan, memberikan kenyamanan dan berbagai hal lain yang dapat mendorong seorang karyawan untuk memberikan kontribusi terbaik kepada tim.

Pertanyaan lainnya, adalah apakah bagus untuk membiarkan seorang individualis berada dalam sebuah tim? Hal tersebut tentu saja tergantung pada tujuan apa yang hendak dicapai oleh sebuah tim. Jika memang ternyata anggota tim yang ada saat ini tidak dapat memberikan kontribusi kumulatif seperti apa yang diharapkan, dan ada individu yang menonjol prestasinya dan dapat mendorong pencapaian yang lebih baik, maka tidak salahnya individualis diperkenankan. Asalkan tingkat konflik terjaga pada tingkatan yang produktif dan bukannya malah destruktif.

Dalam pandangan pribadi saya, ketika membicarakan mengenai tim, tidak ada individu yang lebih besar atau lebih hebat dari sebuah tim. Jika ada individu yang merasa demikian adanya, mungkin ada yang salah pada diri anda sebagai pemimpin tim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s