Membangun Sense of Urgency Sebagai Pijakan Pertama Perubahan Organisasi

Nissan Turn Around

Membangun sense of urgency sangat penting untuk menyadarkan seperti apa kondisi perusahaan yang sebenarnya terjadi kepada karyawan dan karenanya menyadarkan karyawan untuk perlu melakukan perubahan. Ada beberapa cara untuk membangun sense of urgency termasuk diantaranya adalah membangun krisis palsu. Dalam pandangan saya pribadi, hal ini sebenarnya tidak etis, karena berbahaya dan akan menimbulkan ketidakpercayaan dimata para karyawan sehingga karyawan malah melanjutkan aktivitas yang biasa dilakukan.

Sebenarnya pada tahap ini, dalam pandangan saya juga seharusnya terjadi sebuah aktivitas komunikasi, yakni mengkomunikasikan kondisi sebenarnya yang sedang dialami perusahaan/ organisasi secara jujur. Jika dalam mengkomunikasikan visi perubahan yang dikomunikasikan adalah cita-cita tujuan yang ingin dicapai oleh adanya perubahan, atau dengan kata lain apa yang akan terjadi jika anda mau berubah, maka dalam membangun sense of urgency yang dikomunikasikan adalah lebih kepada apa yang akan terjadi jika anda tidak mau berubah.

Hal ini persis seperti apa yang dilakukan oleh Charles Ghosn yang ditunjuk oleh manajemen Renault untuk memimpin Nissan, perusahaan mobil dari Jepang yang terus mengalami penurunan kinerja dan berada diambang kebangkrutan. Kondisi Nissan sangat buruk dimana para karyawan percaya bahwa mereka sedang menuju kehancuran. Charles Ghosn dengan terbuka menyampaikan kondisi realistis berupa data dan fakta yang saat itu sedang dialami oleh Nissan. Pilihannya adalah berubah atau mati. Dari data-data yang ditunjukkan oleh Charles Ghosn tersebut dalam sebuah rapat, karyawan percaya bahwa Nissan perlu berubah dan bergerak untuk melakukan perubahan yang diperlukan.

Charles Chosn juga dengan sangat baik menyusun Nissan Recovery Plan yang menekankan pada dua strategi utama, yakni revitalisasi produk baru Nissan dan melakukan efisiensi biaya besar-besaran. Hal ini merupakan langkah yang harus dilakukan untuk berubah, bukan sebagai penetapan visi.

Berbeda dengan Charles Ghosn, Paul Fortune General Manager Red Roaring Dragon Hotel tidak dapat membangun sense of urgency dengan sangat baik pada Red Roaring Dragon Hotel kepada karyawan-karyawannya yang sudah terlanjur berada pada comfort zone. Perbedaannya kedua adalah Charles Ghosn mampu menjaga perasaan orang Jepang dengan sangat baik, sementara Paul Fortune tidak mampu menjaga moral dari para karyawannya untuk mendukung perubahan. Yang terjadi malah karyawan-karyawan muda yang berkualitas dari Red Roaring Dragon Hotel malah mengundurkan diri. Perbedaan ketiga adalah Charles Ghosn tidak menunjukkan dan tidak mengkomunikasikan apa yang ingin dicapai dari proses perubahan tersebut, karena jika diperhatikan bahwa sense of urgency justru terbangun oleh Pemerintah Tiongkok yang menyadari adanya perubahan pada industri perhotelan di Tiongkok dan karenanya ingin memodernisasi Red Dragon Roaring Hotel. Sayangnya, hal ini tidak terjadi.

Kesimpulannya adalah dalam membangun sense of urgency yang paling penting adalah mengkomunikasikan secara terbuka dan jujur kondisi realistis yang sedang terjadi dalam perusahaan dan menginformasikan apa yang harus dilakukan untuk berubah.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s