Mempertanyakan Efektivitas Strategi Tarif Murah Gojek

Gojek Financial Crises

Setelah lama menerapkan strategi menetapkan tarif murah, pemilik Gojek, Nadiem Makarim mengakui bahwa Gojek mengalami krisis keuangan, dan saat ini membutuhkan investor. Pernyataan ini menjawab sejumlah prediksi yang mempertanyakan kekuatan Gojek untuk terus “bermain” diarea harga rendah, bahwa hanya waktulah yang akan menjawab. Dan pernyataan ini benar-benar menjawab hal tersebut. Apakah strategi menetapkan tarif murah dengan memberikan subsidi/ potongan harga adalah strategi yang tepat?

Dalam pemasaran, strategi yang dilakukan Gojek disebut sebagai sales promotion. Yakni menurunkan harga dengan tujuan untuk meningkatkan volume penjualan. Apa yang dilakukan Gojek adalah sangat jelas, merebut market share sebanyak-banyaknya. Ojek Pangkalan terganggu, supir taksi pun juga ikut terganggu. Sales Promotion adalah strategi pemasaran yang paling termudah untuk dilakukan untuk mendongkrak penjualan.

Sejumlah pakar pemasaran berpendapat bahwa sales promotion memang ampuh untuk mendongkrak penjualan dan meningkatkan market share dalam jangka pendek, namun sangat tidak ampuh untuk jangka panjang. Menurunkan harga, apalagi sampai dalam tarif mengorbankan keuntungan atau bahkan menjual dibawah cost of goods sold dapat membahayakan keberlangsungan usaha sebuah perusahaan. Secara vulgar, ini artinya anda menyayat hidup perusahaan anda secara perlahan.

Gelagat ini sebenarnya sudah mulai terlihat tatkala pada 29 Desember 2015 kemarin Gojek menaikkan tarif kepada apa yang mereka sebut sebagai harga normal. Namun benar atau tidaknya kenormalan dari harga yang dinaikkan, hanya Gojek yang tahu struktur biaya mereka. Permasalahannya adalah Gojek berada dipersimpangan jalan. Menaikkan tarif dengan risiko berkurangnya volume penjualan Gojek (jumlah pemesanan yang dilakukan) atau tetap bertahan dengan tarif yang berlaku saat ini dengan risiko “berdarah-darahnya” keuangan perusahaan.

Masalah lainnya adalah image Gojek yang sudah kadung dianggap murah, sekalipun Gojek sudah menaikkan harganya per akhir  tahun 2015 kemarin. Menanggapi hal ini, solusi dari Nadiem Makarim adalah mencari investor, yang mengindikasikan Gojek akan tetap bertahan dengan strategi sales promotion. Kebijakan ini cenderung berisiko sebenarnya. Sementara penetapan harga jelas bukanlah sebuah strategi yang sembarangan. Menaikkan harga secara perlahan sembari tes pasar untuk mengetahui respon para konsumen mungkin akan menjadi pilihan strategi yang “ngeri-ngeri sedap” untuk ditempuh oleh Gojek.

Walaupun Nadiem mengatakan bahwa sudah ada investor yang siap menanamkan dana pada Gojek, bukankah nantinya para investor tersebut akan memintakan return dari investasi yang sudah ditanamkan. Kekuatan yang terbesar dari Gojek adalah pada brand yang kuat, namun semua bisa jadi kembali pada harga yang menjadi preferensi konsumen. Akankah Gojek bertahan? Sialnya, lagi-lagi kita cuma bisa berkata, hanya waktu yang akan menjawabnya.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s