Memandang Kenaikan Harga Bahan Pokok Saat Menjelang Ramadhan Dari Perspektif Prilaku Konsumen

Ramadhan

Seperti yang telah diprediksi karena telah menjadi trend yang terjadi setiap tahunnya, kenaikan harga bahan pokok kembali terjadi  tahun ini. Harga bahan pokok seperti daging sapi misalnya telah mencapai Rp120.000 per kilogramnya. Upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas barang tentu bukannya tidak maksimal. Menjaga ketersediaan barang adalah salah satu cara yang diupayakan oleh Pemerintah. Pertanyaannya adalah tepatkah hal tersebut dilakukan?

Menjaga ketersediaan barang (supply) yang dilakukan oleh Pemerintah bisa dikatakan menjadi respon dari meningkatnya demand masyarakat selama menjelang momen ibadah bulan puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama islam di Indonesia dan juga saat menjelang dan beberapa hari paska Hari Raya Idul Fitri (lebaran) dan liburan cuti bersama. Permasalahannya, adalah produksi yang dilakukan pasar belum tentu bisa melebihi kondisi normal, apalagi momen puasa, lebaran dan liburan bisa dikatakan permintaan berada di puncaknya. Ditambah lagi adanya penimbunan barang yang makin menyebabkan langkanya supply (scare of resources).

Lantas kemudian, salahkah para pelaku pasar menaikkan harga sebagai akibat kelangkaan supply untuk memenuhi demand yang meningkat? Secara teori, jelas tidak salah, karena hal itu merupakan “hukum alam” dari teori ekonomi. Supply menurun, demand meningkat, maka tingkat harga akan meningkat. Hal ini berlaku pada barang-barang utama yang tidak bisa disubstitusikan.

Karena itu, memandang permasalahan ini, tidak hanya bisa dengan menggunakan solusi responsive semata, karena permasalahan kenaikan harga barang selalu terjadi setiap tahun. Hal ini seakan menjadi permasalahan sistemis yang tidak ada solusinya. Memandang permasalahan ini kemudian lebih tepat dari perspektif prilaku konsumen. Kita tahu, bahwa kenaikan permintaan barang selalu terjadi saat puasa, lebaran dan liburan cuti bersama.

Hal ini terjadi karena masyarakat, termasuk anda dan juga saya cenderung meningkatkan intensitas pola konsumsi pada barang-barang yang memiliki tingkat harga relatif diatas kemampuan daya beli kita. Bahasa awamnya, membeli diluar kemampuan kita, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Secara kasarnya, ya bolehlah sekali-kali makan enak pas lebaran.

Coba anda bayangkan betapa berlimpahnya makanan yang dihidangkan di meja makan saat menjelang buka puasa, dan bahkan saat sahur. Padahal ada barang-barang yang dikonsumsi yang merupakan barang yang jarang atau tidak terlalu sering dikonsumsi saat bukan bulan puasa. Contoh sederhananya, adalah makanan pelengkap saat berbuka puasa seperti kurma, kolak pisang, dan lain sebagainya. Contoh sederhana lainnya adalah seringnya orang berbuka puasa di luar rumah seperti restoran yang jelas membutuhkan biaya yang lebih tinggi dari pada memasak langsung dan makan dirumah.

Cukup aneh sebenarnya disaat puasa, seharusnya pola konsumsi malah menurun tapi yang terjadi adalah peningkatan konsumsi. Tahun 2014 kemarin, penjualan ritel naik hingga 300 persen. Karena itu barangkali perubahan pola konsumsi masyarakat agar menjadi lebih sederhana bisa dikedepankan dengan menggunakan pendekatan berbasis agama untuk merubah prilaku konsumen.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s