Marketing Is Not A Gambling

Video menarik dikirimkan sahabat saya, Hosea Ginting mengenai percakapan dua orang di sebuah bar ditengah sebuah pertandingan olahraga yang ditayangkan di televisi. Salah satu dari dua orang tersebut merupakan seorang eksekutif pemasaran yang sedang tegang menanti hasil dari perjudiannya. Kepada orang yang ia ajak bicara, eksekutif pemasaran itu menceritakan apa yang sedang ia pertaruhkan, yakni sebuah video commercial dari produk yang ia tangani.

Menjadi menarik karena pada prakteknya, hampir semua aktivitas pemasaran sangatlah menekankan pada unsur kreativitas, mencipatakan iklan yang heboh, dengan visualisasi yang menarik agar dapat meningkatkan brand awareness semaksimal mungkin. Jangan salah paham, hal tersebut tentu menjadi benar adanya. Sebagus apapun iklan diciptakan, dampak paling efektif yang bisa diharapkan hanyalah menciptakan brand awareness.

Tapi apakah sebuah program pemasaran hanya berdasarkan kreativitas semata, yang merupakan daripada sebuah bentuk intuisi dari orang-orang yang berada dibelakang penciptaaan sebuah ide kreatif dari sebuah iklan. Dan karena sebuah intuisi, prediksi kemungkinan keberhasilan dari iklan tidak dapat diprediksi dari awal dan karenanya persis seperti apa yang “disindir” dalam iklan yang dikirimkan oleh sahabat saya, bahwa iklan acapkali adalah sebuah perjudian yang belum pasti berhasil atau tidak.

Kreativitas tentu menjadi hal yang bagus dan penting untuk menunjang eksekusi dalam penyampaian sebuah pesan komunikasi, namun pada kenyataannya begitu banyak iklan yang gagal mendeliver pesan komunikasi yang ingin disampaikan oleh sebuah produk atau brand. Jika anda masih ingat iklan Indosat di sosial media yang pernah menghebohkan beberapa waktu lalu dengan tagline liburan ke Aussie lebih mudah di banding ke Bekasi, merupakan salah satu contoh kreativitas jika tidak dipandu dengan pendekatan data ataupun pendekatan prilaku konsumen, akan mengakibatkan ketidakefektifan dan bahkan dapat merusak brand image dari sebuah produk ataupun brand.

Karena itu, barangkali pendekatan berbasis data dan berbasis prilaku konsumen akan lebih mudah memberikan pengarahan yang jelas mengenai kekuatan dan kelemahan dari sebuah brand, serta posisi daya saingnya dibandingkan dengan sebuah competitor, serta bagaimana para konsumen bereaksi terhadap sebuah produk atau sebuah brand. Pendekatan berbasis data dan prilaku konsumen akan memberikan gambaran yang utuh dan jelas mengenai pesan apa yang harus disampaikan, dan bagaimana sebuah pesan itu dieksekusi.

Dengan mahalnya biaya pemasaran termasuk diantaranya biaya pembuatan iklan dan biaya slot iklan di berbagai media, efekfivitas dari sebuah program pemasaran termasuk iklan-iklannya, tentu produk anda memerlukan perencanaan yang terukur dan bukan hanya sekedar berbasis sebuah intuisi ataupun bahkan dengan berjudi.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s