Memandang Pokemon Go Dari Perspektif Prilaku Konsumen

Pokemon Go 4

Walaupun kehadiran Pokemon Go saat ini benar-benar menghebohkan dunia dan menimbulkan dampak finansial yang menyenangkan bagi Nintendo, ada sejumlah pendapat yang mengatakan bahwa kemunculan Pokemon Go tidak akan bertahan lama. Jan Rezab, founder & chairman Socialbakers dalam tulisannya di Pulse Linkedin yang berjudul Why Pokemon Go Is Not Here To Stay For Most People bahkan bertaruh bahwa Pokemon Go tidak akan masuk dalam 10 besar aplikasi terpopuler dalam 12 bulan kedepan. Salah satu alasannya adalah karena prilaku gamers yang menurutnya terlalu malas untuk bergerak setiap hari. Bagaimana kemudian memandang Pokemon Go dari perspektif prilaku konsumen?

Pokemon Go merupakan game berbasis augmented reality, sesuatu yang benar-benar baru dan revolusioner didunia gaming. Kita tahu bahwa sesuatu yang baru akan menimbulkan euphoria “kekinian”. Kehadiran orang-orang berusia muda dan berjiwa muda sebagai early adopters akan sangat berperan dalam masa-masa awal ini. Tapi, akankah Pokemon Go sesuai dengan prediksi Jan Razab tenggelam dan menghilang?

Pada kategori yang benar-benar baru seperti augmented reality, terlalu dini untuk mengatakan benar atau salah terhadap prediksi Jan Razab tersebut. Kita tidak punya referensi apapun terhadap prilaku gamers pada game-game berbasis augmented reality seperti ini. Gary Vaynerchuck, salah satu influencer di LinkedIn dalam tulisannya yang berjudul Nintendo’s Pokemon Go Wins With Technology & Nostalgia menyebutkan keberhasilan Nintendo dengan Pokemon Go adalah memanfaatkan dua keunggulan, yakni dengan teknologi dan nostalgia.

Saya pribadi setuju dengan pendapat Gary Vaynerchuck. Keunggulan Nintendo dengan ide revolusioner augmented reality jelas memberikan keunggulan kompetitif. Belum lagi ditambah dengan teknologi google maps yang menunjang kelancaran dan kenikmatan para gamers dalam memainkan Pokemon Go. Dari sisi nostalgianya lah dalam pandangan saya, Pokemon Go memiliki keunggulan tersendiri. Pokemon telah menjadi sebuah brand yang cukup dikenal oleh masyarakat dunia melalui kehadiran game-game pendahulunya, film dan kartun serial, serta merchandise yang telah terjual dengan angka penjualan yang cukup fantastis.

Dilihat dari perspektif prilaku konsumen, khususnya dalam sudut pandang bahwa prilaku konsumen didorong oleh faktor internal, Pokemon Go memiliki keuntungan tersendiri pada aspek memori, dimana sebagian besar masyarakat dunia telah mengenal karakter Pokemon, dan karenanya Nintendo tidak perlu repot-repot lagi memberitahukan kepada dunia siapa itu Pokemon. Yang mungkin menjadi permasalahan adalah dari aspek learning. Dimana konsep augmented reality benar-benar merupakan sebuah konsep yang baru.

Erwen Zhu dalam tulisannya yang berjudul Pokemon GO – Revolution in Mobile Gaming? Probably not sekilas dapat memberikan gambaran mengenai hal ini. Ia menyebutkan  bahwa game pada mobile device yang sukses terbagi menjadi dua kategori besar. Pertama adalah game yang memiliki gameplay yang sangat mudah untuk dipelajari dan dimainkan. Kategori yang pertama ini dapat dijumpai pada game seperti Angry Birds ataupun Candy Crush. Kedua adalah game yang memili gameplay yang menantang untuk ditaklukkan dan berbasis real time strategi. Kategori yang kedua ini dapat dijumpai pada game seperti Cash of Clans.   

Pokemon Go dapat dikategorikan sebagai game dengan gameplay yang sangat sederhana. Anda hanya perlu berjalan dan berjalan untuk mencari Pokemon, dan kemudian memasukkannya kedalam sebuah bola yang bernama Pokeballs, mengembangkan Pokemon dan berduel dengan gamers lainnya dalam gym mode untuk terus mengembangkan Pokemon lainnya. Tidak terlalu sulit sebenarnya.

Namun yang mungkin akan dianggap sulit, adalah karena kita selalu dituntut untuk bergerak dan bergerak dalam mencari Pokemon, ataupun bertemu dengan gamers lainnya sehingga kita dituntut untuk bersosialisasi sebanyak mungkin. Disinilah mungkin pendapat Jan Rezab menemukan relevansinya. Banyak gamers yang lebih senang duduk dikursi didepan komputer, atau televisi atau juga duduk sembari memegang smartphonenya sembari bermain dengan gamers lainnya. Bertentangan dengan pendapat Jan Rezab, saya malah menganggap Pokemon Go sebagai definisi sejati dari game online yang benar-benar mobile. Tujuan dari game online adalah mempertemukan para gamers. Dan Pokemon Go memungkinkan para gamer bertemu secara online dan real time pada saat yang bersamaan.

Dilihat dari perspektif prilaku konsumen didorong oleh faktor eksternal, kita telah melihat kehadiran karakter Pokemon yang diterima oleh berbagai budaya dibelahan dunia. Kita juga telah melihat bahwa Pokemon telah diterima oleh berbagai masyarakat dari berbagai faktor demografis dan kelas sosial. Komunitas fans base Pokemon juga sangat besar. Tinggal bagaimana Nintendo memanfaatkan faktor-faktor yang sudah positif itu agar dapat dikonversikan sebaik mungkin untuk membuat Pokemon Go dapat diterima oleh masyarakat dunia, bukan hanya sekedar membicarakannya saja, tetapi juga mendownload dan memainkannya.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s