Buat Apa Sekolah Mahal Jika Hanya Untuk Memajukan Usaha Orang Lain?

Buat Apa Sekolah Mahal

Sepanjang 1 tahun lebih saya kuliah magister manajemen, dari sekian banyak teori, diskusi dan motivasi baik dari dosen dan para sahabat, ada satu kalimat yang begitu menggugah saya. Tanpa disangka, ucapan itu datang dari sahabat saya yang bernama Toga Sinaga. Pertama kali mendengar ia mengucapkan seuntai kalimat itu, saya langsung merasa ditampar, dan ditempeleng bolak balik.

Buat Apa Kuliah Mahal-Mahal Jika Hanya Ingin Memajukan Usaha Orang Lain

Toga Sinaga

Ia tidak menyampaikannya dalam intonasi yang membakar semangat seperti para motivator bisnis. Sederhana saja cara ia menyampaikan kalimat itu. Tapi tetap saja kalimat yang terlontar dari mulutnya itu begitu kuat terekam dalam benak saya. Ucapannya benar-benar membakar semangat saya.

Apa yang ia sampaikan ada benarnya juga. Kalau ujung-ujungnya hanya untuk mewujudkan impian orang lain dan bukannya impian kita sendiri, maka menjadi sebuah kesia-kesiaan belaka saja uang yang sudah kita investasikan untuk pendidikan kita.

Tentu motivasi orang untuk menempuh jalur pendidikan, apalagi untuk mengambil gelar magister manajemen di sekolah bisnis terkemuka, kembali menjadi hak dari masing-masing setiap orang. Ada yang mungkin melakukannya karena mendapatkan beasiswa, ada yang melakukannya sebagai syarat untuk naik jabatan dan ada juga yang melakukannya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik ditempat yang lebih baik. Bahkan ada juga yang tidak tahu apa alasannya kuliah.

Dalam prosesnya, ada yang lebih mementingkan nilai, ada yang mementingkan gelar akademisnya semata. Namun tak jarang ada yang menekankan pada pemahaman materi dan ada juga yang mencari networking. Kalau saya pribadi, tentunya saya ingin mendapatkan semuanya. Maksudnya saya, jika itu memungkinkan, ya kenapa tidak.

Ilmu dan networking adalah dua aset yang sangat penting. Teori-teori ditambah pengalaman kita akan memperkaya perspektif kita dalam mengelola sebuah usaha. Bukan berarti nilai itu tidak penting. Namun hanya mengejar nilai tapi kehilangan esensi dari ilmu yang diajarkan dan melupakan potensi yang bisa terbangun dari sebuah jejaring tentu sangat disayangkan.

Kembali kepada sahabat saya itu, Toga ternyata memiliki keberanian untuk melakukannya. Ia sudah mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri dan saat ini sedang mempersiapkan untuk membuka tempat makan di Bekasi. Sebuah keberanian yang saat ini belum saya miliki. Dan untuk hal itu, rasanya saya harus mengacungkan jempol untuknya. Saya pun siap membantunya.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s