Etiskah Golden Parachute?

Golden Parachute

Verizon baru saja secara resmi mengumumkan telah melakukan akuisisi bisnis inti Yahoo dengan nilai sebesar 4,83 miliar USD atau senilai Rp63 triliun. Salah satu dampak dari aksi pembelian tersebut adalah kemungkinan hengkangnya Marissa Mayer. CEO Yahoo tersebut sendiri mengumumkan masih akan bertahan dari kursi jabatannya. Namun jika ia dipecat atau dikeluarkan dari Yahoo, Marissa Mayer akan mendapatkan pesangon sebesar 54,9 juta USD atau sebesar Rp722 miliar.

Praktik semacam ini sering dikenal dengan istilah golden parachute. Istilah tersebut diasumsikan jika perusahaan diibaratkan sebuah pesawat, maka si “pilot” atau CEO yang dipaksa keluar dari pesawat (entah karena pesawatnya menuju arah lain yang berbeda atau pesawatnya sedang menuju kejatuhan) akan keluar dengan parasut emas atau imbalan yang sangat fantastis jumlahnya.

Praktik Golden Parachute merupakan salah satu strategi bertahan yang banyak diterapkan oleh perusahaan untuk mengantisipasi akuisisi atau pengambilalihan, biasanya secara paksa (hostile take over). Golden parachute bertujuan untuk melindungi para eksekutif atau board of director dari adanya perubahan struktural pada manajemen puncak jika terjadi sebuah aksi take over. Perusahaan yang tadinya ingin melakukan akuisisi jadi terpaksa berpikir ulang untuk melakukan akuisisi atau sekiranya jadi melakukan akuisisi, maka mereka harus mengeluarkan biaya yang sangat besar hanya untuk membuat sang “pilot” keluar dari pesawatnya.

Normalnya, secara psikologis golden parachute sangat mungkin terjadi jika para pemegang saham sangat mencintai CEOnya, dalam artian kinerja perusahaan menunjukkan peningkatan yang impresif dan signifikan.

Ada sejumlah CEO dari sejumlah perusahaan besar didunia yang mendapatkan “golden parachute” dalam jumlah yang sangat fantastis. Salah satu yang terbesar adalah James J Mulva yang mendapatkan golden parachute sebesar 155,9 juta US Dollar. Jumlah tersebut jelas membuat golden parachute yang didapatkan oleh Marissa Mayer menjadi tidak ada apa-apanya. Namun apa yang diterima oleh Marissa Mayer jelas lebih besar daripada James A Skinner yang mendapatkan golden parachute dari McDonald’s yang “cuma” sebesar 33 juta US Dollar.

Jumlah yang diterima oleh Marissa Mayer sekiranya ia keluar dari Yahoo, tentu merupakan bagian dari kontrak kerja yang ia tandatangani bersama Yahoo. Dilihat dari perspektif hukum, maka hal ini tentu tidak menjadi sebuah masalah. Namun jika kita mengacu dari perspektif etika bisnis, membuat kita kembali mempertanyakan apakah praktik Golden Parachute ini sesuai dengan prinsip etika? Pantaskah Marissa Mayer mendapatkan kompensasi yang sedemikian besarnya ditengah merosotnya kinerja Yahoo? Marissa Mayer yang digadang-gadang mampu mengembalikan kejayaan Yahoo dimasa silam. Sejumlah strategi yang dilakukannya, termasuk pembelian Flickr dan Tumblr dianggap tidak memberikan kontribusi kinerja keuangan kepada Yahoo.

Jika dibandingkan pada masa-masa jayanya, Yahoo sempat digadang-gadang akan mengakuisisi Google dan Facebook, dua perusahaan yang kini malah menjadi raja di kancah perusahaan internet. Sebuah penyesalan yang mungkin akan sangat disesali oleh Yahoo. Barangkali kini mereka bisa menambahkan satu penyesalan terbaru, merekrut Marissa Mayer sebagai CEO.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s