Memandang Bihun Kekinian “Bikini” Dari Perspektif Pemasaran Yang Beretika

Bihun Kekinian 3

Netizen dan media mainstream kemarin ramai membicarakan mengenai Bihun Kekinian, sebuah makanan ringan berupa bihun yang bisa langsung dikonsumsi tanpa harus direbus terlebih dahulu atau digoreng terlebih dahulu. Yang membuat bihun kekinian menjadi heboh adalah penamaan brand produknya yang diberi nama bikini atau singkatan dari bihun kekinian, serta gambar visual kemasannya yang menyerupai bentuk wanita yang hanya mengenakan (maaf) bra dan (maaf) tight pants saja. Belum lagi taglinenya yang dianggap tidak senonoh yakni (maaf)  “remas aku”. Bagaimana memandangnya dari perspektif pemasaran yang beretika?

Jika kita mengesampingkan aspek etika, harus kita akui bahwa pemilihan kata bihun kekinian yang kemudian disingkat menjadi bikini adalah pemilihan nama yang mampu membuat calon pembeli tertarik untuk mencari tahu. Walaupun tidak ada korelasi positif antara makanan dengan kata “bikini”, namun dalam memberikan brand, memang tidak harus selalu berkorelasi positif secara langsung terhadap sebuah produk. Namun juga pemilihan kata “bikini” jelas merupakan sebuah risiko yang berbahaya. Penggunaan kata “bikini” akan menjauhkan calon pembeli yang berjenis kelamin wanita. Apakah penggunaan kata “bikini” ini apakah menandakan bahwa produsennya lebih menyasar kaum pria sebagai target marketnya, tentu hanya produsennya yang mengetahuinya.

Hal ini semakin diperkuat lagi dengan penggunaan visual yang memperkuat kata “bikini” tersebut yang malah akan semakin menjauhkan calon pembeli yang berjenis kelamin wanita. Ada kemungkinan bahwa wanita dalam memandang baik nama, ataupun visual yang ditonjolkan dalam kemasan bihun kekinian tersebut sebagai sebuah bentuk pelecehan seksual.  Belum lagi ada kemungkinan bahwa bihun kekinian merupakan upaya industry pornografi dalam memberikan “sosialisasi dini” kepada anak-anak. Terlepas benar atau tidaknya tuduhan tersebut, biarlah aparat penegak hukum yang menentukan.

Bihun Kekinian 4

Satu hal yang pasti, penggunaan nama bikini, visual gambar wanita yang hanya menggunakan (maaf) bra serta tagline remas aku merupakan satu kesatuan utuh yang bisa menimbulkan persepsi tertentu bagi yang melihatnya. Negatif atau tidaknya, tentu bergantung pada perspektif masing-masing. Ada yang mungkin menganggapnya biasa saja. Buktinya ada seorang wanita yang mengenakan hijab yang dengan bangga memasarkan produk yang memiliki kemasan yang memiliki visual wanita yang terbuka auratnya. Ada juga yang menganggap ini sebagai bentuk pelecehan seksual dan merupakan konten pornografi yang membahayakan.

Ataukah mungkin bihun kekinian menggunakan strategi menciptakan promosi yang kontroversial untuk memancing publisitas yang tinggi terhadap produk tersebut? Jika anda masih ingat dengan bakso djingkrak yang pernah menghebohkan jagat sosial media dan media mainstream pada sekitar bulan April 2016 lalu karena melakukan konsep yang kurang lebih sama, yakni mengeksploitasi (maaf) keseksian dari para pramusajinya (meskipun kemudian beredar rumor bahwa pramusaji tersebut adalah para pemilik bakso djingkrak). Harus diakui bahwa aspek sensualitas kerap kali mendatangkan dampak promosi yang sangat tinggi dalam waktu yang terbilang singkat. Namun tentu saja dalam penerapan pemasaran yang beretika, hal ini tentu saja sangat-sangat disayangkan.

Kembali mengenai bihun kekinian, tanpa harus menggunakan kata ”bikini”, asalkan dengan strategi pemasaran yang baik, saya yakin cukup laku. Buktinya saja Maicih bisa sangat sukses di pasar keripik tanpa harus menonjolkan unsur sensualitas. Tanpa harus disingkat menjadi “bikini” bihun kekinian adalah pilihan nama yang relatif baik, walaupun besar kemungkinan tidak akan menimbulkan dampak publisitas seheboh brand “bikini”.

Baca Juga : Memandang Bakso Djingkrak Sunter Dari Perspektif Pemasaran dan Etika

Dalam dunia pemasaran, aspek kreativitas acapkali menjadi pendobrak yang memberikan manfaat kepada produsen, baik manufaktur ataupun jasa. Kreativitas melahirkan inovasi yang kemudian tentu saja mendatangkan profit bagi para pengusaha. Kreativitas juga nampak melalui aspek design visual. Tapi manakala kreativitas tersebut berbenturan dengan aspek norma sosial dan etika yang berlaku di masyarakat, tentu saja strategi pemasaran yang dilakukan oleh Bihun Kekinian harus dikritisi lebih lanjut.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

 

Notes :

Dengan mempertimbangkan bahwa gambar kemasan dari Bihun Kekinian besar kemungkinan dianggap oleh aparat yang berwenang mengandung materi pornografi, maka The Business Perspective memutuskan untuk mensensor gambar kemasan tersebut dalam artikel ini.

The Business Perspective menghimbau para pembaca untuk tidak menyebarluaskan gambar visual dari kemasan Bihun Kekinian karena anda dapat dianggap menyebarluaskan materi pornografi.

Dengan mempertimbangkan pencegahan terhadap pencemaran nama baik, The Business Perspective juga mensensor dari gambar foto seorang wanita yang sedang mempromosikan Bihun Kekinian tersebut.

The Business Perspective berkomitmen untuk mendukung anti pornografi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s