Perlukah Perusahaan Business To Business Menggunakan Sosial Media?

B2B

Penggunaan sosial media telah menjadi bagian dari strategi komunikasi dari berbagai perusahaan. Mulai dari yang menawarkan produk hingga kepada perusahaan jasa menggunakan sosial media untuk melakukan interaksi dengan para customer dan calon customernya. Untuk perusahaan retail yang menawarkan produk dan jasanya kepada konsumen perorangan (B2C – Business To Customer), penggunaan sosial media tentu menjadi krusial. Namun apakah perusahaan yang berbasis B2B (Business To Business) memerlukan sosial media?

Pada dasarnya perusahaan, terlepas dari apakah karakteristiknya B2B ataupun B2C menggunakan sosial media untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar untuk eksis di dunia maya hingga berinteraksi secara intens berinteraksi dengan seluruh pemangku kepentingannya (baik itu masyarakat, ataupun akun sosial media dari berbagai lembaga-lembaga korporasi dan pemerintahan).

Secara rinci, tujuan perusahaan membuat, mengelola dan berinteraksi di sosial media adalah untuk menyebarluaskan informasi resmi mengenai perusahaan, produk dan jasa yang diberikan kepada khalayak ramai via sosial media. Hal ini bisa jadi berbentuk menyebarkan link pada akun sosial media resmi yang dimiliki. Informasi yang disebarluaskan bukan hanya terbatas dari sumber resmi perusahaan, tetapi bisa juga berupa testimoni positif dari perusahaan, ataupun link berita positif dari media mainstream.

Selain itu karena sifat komunikasinya yang dua arah, perusahaan bisa mendapatkan sumber informasi apapun dari pengguna sosial media. Informasi ini bisa jadi berbentuk saran dan keluhan, yang kemudian akan ditindaklanjuti menjadi pengembangan produk, atau peningkatan kualitas pelayanan. Perusahaan juga bisa berinteraksi mulai dari menjawab kebutuhan informasi dari netizen, mulai dari pertanyaan yang berkaitan dengan produk, persyaratan, lokasi kantor dan lain sebagainya. Intinya dengan sosial media, perusahaan bisa melakukan aktivitas komunikasi yang bertujuan mulai dari sekedar memberikan informasi, memberikan respon hingga kepada membangun keterikatan.

Yang perlu kita pahami adalah karakteristik dari B2B tentu saja berbeda dengan B2C. Perusahaan yang berbasis B2B tidak melakukan komunikasi kepada khalayak massif, namun kepada perusahaan. Namun kita juga sadar bahwa memasarkan kepada perusahaan sifatnya sangat abstrak karena perusahaan adalah sifatnya sekumpulan orang. Perusahaan B2B hanya memasarkan kepada sejumlah orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan proses pengambilan keputusan pembelian.

Perusahaan B2B seandainya menggunakan sosial media mungkin tidak akan mendapatkan manfaat setinggi dari perusahaan B2C. Sifatnya pun mungkin hanya sebatas untuk memberikan informasi dan memberikan respon kepada netizen yang menanyakan. Karena itu manfaat yang mungkin didapat adalah brand awareness semata saja. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Eloqua sebagaimana dilansir oleh DailySocialID yang melakukan survei kepada 548 pemasar B2B untuk mengetahui bagaimana mereka menggunakan media sosial, dari survei ini ditemukan bahwa 64% perusahaan menggunakan pemasaran lewat media sosial dan 36% tidak. Alasan paling utama menggunakan media sosial adalah membuat awareness.

Satu hal yang pasti, apapun karakteristik perusahaanya, ketika sebuah perusahaan sudah memutuskan untuk memiliki akun sosial media resmi (apapun platformnya), maka perusahaan tentunya harus berkomitmen dalam mengelolanya, termasuk menjawab pertanyaan ataupun respon dari netizen.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s