Benarkah Gelar Akademis Tak Memiliki Pengaruh Terhadap Kesuksesan?

Educational Factors Irrelevant

Seringkali kita mendengar cerita sukses tentang orang-orang yang mendirikan usaha atau menjabat sebagai CEO tanpa memilki gelar akademis. Atau juga sering kita mendengar bahwa para mahasiswa yang memiliki nilai A (the A Students) seringkali akan bekerja kepada mahasiswa yang memiliki nilai C (the C Students). Benarkah selalu seperti itu?

Mashable melansir bahwa ternyata cuma ada 2,4 % dari CEO ternama didunia yang sama sekali tidak memiliki gelar akademis (minimal sarjana) sama sekali. Richard Branson (pendiri Virgin Group), Mark Zuckerberg (pendiri Facebook), Steve Jobs (pendiri Apple) adalah beberapa nama yang populer yang acapkali digunakan contoh sebagai para pebisnis yang tidak memiliki gelar akademis. Di Indonesia, almarhum Bob Sadino adalah salah satu contoh fenomenal tentang pebisnis sukses yang tidak memiliki gelar akademis.

Mashable juga mengungkapkan bahwa dari 500 Fortune Company CEO, sebanyak 165 CEO memiliki gelar akademis Master of Business Administration, 37 diantaranya memiliki gelar magister, 163 diantaranya memiliki gelar undergraduate (bachelor) dan bahkan 24 diantaranya memiliki gelar doctor. Statistik ini menjadi bukti jelas bahwa banyak CEO di dunia ini yang sangat memperhatikan latar belakang akademisnya. Jadi pernyataan diawal bahwa tidak perlu gelar akademis yang tinggi-tinggi untuk menjadi CEO (jika itu tolak ukur sebuah kesuksesan) menjadi sangat keliru.

Selain menjadi CEO, nama-nama populer seperti Richard Branson, Mark Zuckerberg ataupun almarhum Bob Sadino adalah para pendiri. Untuk mendirikan perusahaan, anda tidak akan ditanyakan apa latar belakang akademis. Yang anda perlukan hanyalah modal awal, dan notaris. Sesederhana itu. Tapi seiring dengan persaingan bisnis yang ketat, setiap perusahaan pastinya memerlukan CEO yang berkompeten untuk memimpin perusahaan. Sejumlah karakteristik mendasar seperti kemampuan memimpin dan kemampuan manajerial adalah hal yang mutlak. Tetapi faktor penunjang yang utama seperti kemampuan membaca arah persaingan dan strategi perusahaan adalah hal penting yang tidak boleh dilupakan.

Pengalaman yang panjang akan memberikan anda kemampuan itu, tetapi latar belakang akademis akan memberikan anda pijakan yang solid. Ini seperti menggabungkan teori dan praktik didalam kepala seorang CEO. Karakter yang kuat yang terbangun dari pengalaman digabungkan dengan pemahaman teori dan praktik yang tepat akan menjadikan anda seorang CEO yang utuh dan komplit. Dunia akademis memberikan dukungan yang solid untuk kemampuan kognitif seorang CEO.

Belum lagi persaingan tenaga kerja yang semakin ketat. Pengalaman kerja anda yang panjang bisa jadi tidak dihargai dibandingkan dengan tenaga kerja yang memiliki gelar akademis. Pernahkah anda berpikir, bagaimana seandainya jika anda sudah memiliki pengalaman kerja yang mumpuni dan gelar akademis yang bergengsi serta kemampuan kognitif yang luar biasa, bukankah value anda akan semakin tinggi.

Kita kemudian tidak bisa memisahkan latar belakang akademis dengan faktor kerja keras. Jika anda bekerja keras untuk membangun kesuksesan anda, dengan dukungan kemampuan kognitif anda, anda akan menjalankan dengan lebih terarah dan terstruktur. Jadi kuncinya ada pada diri anda sendiri.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s