Peluang Go-Jek Masuk ke Fintech Dengan Go-Pay

3-potensi-go-pay

Rencana Go-Jek dimana pengguna aplikasi Go-Jek bisa melakukan top up Go-Pay secara cash kepada driver Go-Jek dalam pandangan saya, merupakan sebuah rencana yang “mengerikan”. Bahkan, hal ini bisa jadi merupakan “rencana” Go-Jek untuk masuk ke dalam ranah financial technology. Benarkah Go-Jek punya peluang yang kuat untuk menjadikan Go-Pay sebagai financial technology?

Go-Pay merupakan metode pembayaran non tunai berbasis saldo yang dimiliki oleh satu identitas penggguna untuk melakukan pembayaan atas jasa yang disediakan oleh Go-Jek. Saat ini Go-Jek memberikan diskon untuk berbagai layanan Go-Jek jika pengguna melakukan pembayaran dengan Go-Pay.

Kenapa “mengerikan”? 10 juta pengguna aplikasi Go-Jek adalah alasan pertama kenapa Go-Pay punya peluang untuk menjadi financial technology. 10 juta pengguna adalah customer based yang sangat diidam-idamkan oleh lembaga keuangan manapun, baik lembaga keuangan tradisional seperti perbankan dan asuransi. Jumlah customer based sebesar jumlah pengguna Go-Jek hanya dapat disaingi oleh bank-bank besar di Indonesia.  Sekedar gambaran saja, Bank BCA yang sudah puluhan tahun berdiri, memiliki nasabah tabungan sebanyak 14 juta rekening, bandingkan dengan Go-Jek yang belum sampai 2 tahun berdiri sudah mampu memiliki jumlah pengguna mencapai 10 juta. Alangkah “mengerikan” kedepannya jika Go-Jek mampu mengkonversi 10 juta pengguna tersebut untuk dapat memiliki akun Go-Pay.

Alasan keduanya, adalah ratusan ribu pengemudi Go-Jek, dan mobilitasnya. Walaupun tidak diketahui secara pasti, jumlah driver Go-Jek diperkirakan mencapai 200 ribu lebih, dengan sebagian besar terpusat di Jakarta. Dengan memfungsikan driver Go-jek untuk dapat menerima uang dari pengguna Go-Jek, maka driver Go-Jek tidak ada bedanya dengan fungsi teller di industri perbankan. Jika dibandingkan dengan lembaga keuangan seperti perbankan, tidak ada bank di Indonesia yang memiliki teller sebanyak Go-Jek. Belum lagi mobilitasnya driver Go-jek. Coba bayangkan, jika seandainya driver Go-Jek diberikan insentif tambahan untuk memasarkan produk Go-Pay, maka Go-Jek juga akan memiliki ratusan ribu tenaga pemasaran. Sebuah jumlah yang sangat mengerikan.

Alasan ketiganya, dan ini merupakan alasan yang jauh lebih mengerikan. Go-Jek memiliki berbagai macam varian jenis layanan. Mulai dari mengantarkan orang, barang, makanan hingga kepada jasa kebersihan, massage dan kecantikan. Hanya dengan mengandalkan ekosistem bisnisnya saja, Go-Jek mampu menciptakan perputaran uang yang sangat besar jumlahnya.

Simulasinya sangat sederhana, seorang pengguna aplikasi dengan profesi karyawan kantoran misalnya yang menggunakan layanan Go-Ride untuk transportasi sehari-hari, melakukan pemesanan minuman kaleng dan belanjaan ringan sehari-hari melalui Go-Mart katakanlah sebanyak 1 kali perbulan dan pemesanan makanan via  Go-Food katakanlah sebanyak 1 kali perbulan. Contoh perhitungannya, sebagai berikut :

simulasi-perputaran-uang-gojek

Itu baru dari 1 pengguna. Coba bayangkan 10 juta pengguna dengan rata-rata transaksi per orang per bulan mencapai sekurang-kurangnya 250 ribu rupiah saja, maka dalam sebulan saja Go-Jek bisa mengumpulkan dana 2,5 triliun per bulan. Walaupun baru sebatas asumsi, nampaknya perputaran uang yang ada di seluruh ekosistem bisnis Go-Jek bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah per bulannya. Jumlah tersebut sangatlah menggiurkan untuk sebuah bisnis, dan Go-Pay sangat bisa difungsikan menjadi “mata uang digital” yang berlaku di ekosistem bisnis Go-Jek.

Permasalahannya adalah bahwa Go-Jek tentu perlu sesegera mungkin mengajak para penggunanya untuk memiliki akun Go-Pay dan menaruh uang mereka di Go-Pay. Selain itu, jika memang benar Go-Jek ingin mendorong Go-Pay ke ranah financial technology, banyak yang perlu diinvestasikan oleh Go-Jek seperti untuk infrastruktur teknologi tersendiri. Bahkan, tak menutup kemungkinan sebuah aplikasi tersendiri. Benarkah Go-Jek akan mendorong Go-Pay ke ranah financial technology? Hanya Go-Jek yang tahu. Tapi yang pasti, peluangnya ada, dan sangat besar, bahkan cenderung “mengerikan” bagi lembaga keuangan tradisional dan pemain financial technology yang ada saat ini.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s