Tepatkah Strategi Lini Produk Dari Go-Jek?

lini-produk-gojek

Kehadiran Go-Auto dan Go-Med semakin memperluas jangkauan pelayanan yang dimiliki oleh Go-Jek. Dengan adanya 2 layanan tersebut, Go-Jek memiliki 13 varian layanan yang masing-masing memiliki segmentasinya sendiri-sendiri (14 jika termasuk Go-Pay). Setelah sebelumnya pernah diragukan akan kemampuan berkembang secara efektif karena dianggap tidak fokus karena mencoba masuk ke berbagai sektor industri. Tepatkah strategi lini produk dari Go-Jek?

Sebelumnya, saya pernah mengernyitkan dahi ketika Go-Jek meluncurkan layanan Go-Glam, Go-Massage dan Go-Clean (kalau tidak salah dalam satu kurun waktu yang sama). Ketika itu (dan sebenarnya masih hingga saat ini), saya bertanya, untuk apa Go-Jek meluncurkan layanan tersebut? 3 layanan tersebut keluar dari core competence Go-Jek, yakni pada aspek transportasi orang dan barang. Asumsi saya adalah mungkin Go-Jek mau lebih menspesifikkan, bahwa bukan cuma barang yang bisa dikirimkan, tetapi jasa juga bisa dikirimkan kepada para pengguna aplikasi Go-Jek. Tetapi kemudian saya bertanya lebih dalam, siapakah yang mau menggunakan jasa-jasa tersebut? Jika ada, seberapa banyak potensial pelanggannya, dan apakah memberikan manfaat kepada bisnis Go-Jek secara keseluruhan?

Isu keamanan menjadi penghalang pertama. Percayakah anda ketika ada orang asing didalam rumah anda membersihkan barang-barang anda, apakah tidak terbersit ada sedikit kekhawatiran bahwa anda akan kehilangan barang berharga. Tidak adanya pemberitaan ataupun complain orang kehilangan barang saat menggunakan layanan Go-Glam, Go-Massage dan Go-Clean (sepengetahuan saya) membuat keraguan saya agak sedikit sirna. Dan karena ketiga layanan tersebut, masih ada dalam layanan Go-Jek, marilah kita berasumsi, bahwa ketiga layanan tersebut ada peminatnya dan mendatangkan pendapatan untuk Go-Jek dan mitra-mitranya.

Apa yang dilakukan oleh Go-Jek dengan terus mengembangkan berbagai variasi layanannya dengan tetap mengusung brand “Go” yang sudah populer dengan Go-Jek merupakan horizontal brand extensions. Kesemua layanan yang disediakan oleh Go-Jek menjadikan Go-Jek sebagai umbrella brand. Manfaat yang didapat adalah tentu saja brand awareness yang sudah tinggi, persepsi terhadap kualitas yang sudah terbukti, jangkauan pemasaran yang sangat mencengangkan jumlahnya, dan persepsi terhadap pengalaman menggunakan sebuah produk atau layanan. Manfaat lainnya, adalah dengan sangat mudahnya, mereka bisa membundling berbagai variasi layanan yang disediakan. Go-Ride dengan Go-Mart, Go-Food, Go-Send, Go-Glam dan lain sebagainya.

Banyak perusahaan yang melakukan hal ini. ABC adalah salah satu contoh yang berhasil menjadi umbrella brand. ABC memiliki produk batere, dan juga kopi. Anda tetap mengkonsumi kopi tanpa khawatir terjebak dalam image batere. Coba bayangkan misalnya dengan rinso. Jika ada kopi bermerek rinso, apakah anda akan mau meminumnya? Belum diketahui memang, tapi kira-kira seperti itu gambarannya. Dan dalam hal ini, Go-Jek terbilang berhasil mendeliver value dari umbrella brand kepada product linenya masing-masing. Kecuali mungkin untuk Go-Glam, Go Massage, dan Go-Clean yang saya masih gagal paham itu.

Tapi secara umum, marilah kita perspesikan dan kita clustrer bahwa layanan yang diberikan oleh Go-Jek adalah transportasi orang, barang dan jasa. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Nadiem Makarim, sang CEO Go-Jek dan Kevin Aluwi, CFO Go-Jek pada Tech In Asia. Ia menyebutkan bahwa logistik adalah kunci dari semuanya. Kevin Aluwi mengatakan pada dasarnya, dengan jaringan logistik seperti yang sudah dibuat, semua unit bisnis dan layanan yang berbeda ini ditumpuk. Go-Jek hanya mencari yang aktivitas ekonominya paling tinggi untuk dimasukkan ke dalam jaringan. Jadi, Go-Jek tidak kehilangan jika fokusnya ada pada meningkatkan nilai aktivitas yang dilakukan di jaringan tersebut.  Keduanya juga mengatakan bahwa Go-Jek malah menyiapkan jutaan supir ojek untuk meningkatkan rantai nilai tersebut ke depannya.

Pernyataan kedua petinggi Go-Jek tersebut seperti benar-benar membukakan mata saya. Ini ternyata arah Go-Jek menjadi perusahaan yang bergerak di ranah logistic, dengan menyediakan jasa transportasi orang, barang dan jasa. Jumlah driver yang ditargetkan, yakni sebanyak 1 juta orang, jelas menjadi pertanda serius seberapa besar ambisi Go-Jek untuk menguasai bidang ini. Pilihan dari jenis layanan yang dikembangkan, walaupun bisa dikatakan tak selalu selaras dengan core competence dari Go-Jek, mungkin saja menjadi kepingan-kepingan yang akan melengkapi sebuah komunitas besar, sebuah ekosistem bisnis dengan perputaran uang yang besar jumlahnya. Tambahkan ekosistem bisnis ini dengan Go-Pay, Go-Jek akan menjadi perusahaan yang sangat “menakutkan” dimata para pesaingnya, bahkan para pesaing yang secara tidak langsung berhadapan dengan Go-jek.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s