Driver. Kekuatan dan Kelemahan Utama Dari Transportasi Berbasis Aplikasi

Selain dari aplikasinya itu sendiri, yang menjadi sumber kekuatan dari perusahaan transportasi berbasis aplikasi (atau sebaliknya perusahaan aplikasi transportasi) adalah driver itu sendiri. Bukan hanya soal jumlah tetapi kualitas dari para driver. Namun sayangnya, selain menjadi kekuatan utama, driver dengan jumlah yang terlalu banyak juga bisa menjadi sumber kelemahan utama dari perusahaan transportasi berbasis aplikasi. Mengapa demikian?

Salah satu momen of truth pelanggan/ pengguna aplikasi transportasi adalah ketika pelanggan berbicara, bertemu dan diantarkan oleh driver (pengemudi) transportasi berbasis aplikasi. Intonasi suara yang tidak ramah, keterlambatan dalam mengantarkan barang, membuat customer terlalu lama menunggu, tidak dengan mudah memahami apa yang disampaikan oleh customer adalah salah satu dari sekian banyak potensi yang bisa menyebabkan seorang customer menilai jelek sebuah transportasi berbasis aplikasi.

Ambil contoh, adalah ketika tadi pagi, saya mendapatkan salah seorang driver yang sangat-sangat tidak ramah. Menelepon saya dengan intonasi suara yang tinggi (bahkan cenderung membentak), dan yang lebih parahnya adalah driver tersebut karena kesulitan mencari alamat rumah saya, meminta saya untuk yang menghampiri dirinya dititik yang telah ia tentukan. Saya langsung menegur balik driver tersebut, dan tak lama kemudian driver tersebut membatalkan sendiri pesanan saya.

Saya sangat menyakini, bahwa tidak semua driver dari perusahaan transportasi berbasis aplikasi tersebut seperti itu. Buktinya ketika saya mengganti dengan driver lain, saya mendapatkan driver yang ramah dan komunikatif, memahami rute jalan. Dalam sebuah perbincangan singkat tersebut, ia menuturkan bahwa dirinya adalah mantan kepala pabrik sebuah produk plastik. Saya kemudian menjadi tak heran dari sikap ramahnya dan wawasannya.

Namun tidak semua driver dari perusahaan transportasi berbasis aplikasi saya yakini merupakan mantan karyawan kantoran atau berpendidikan tinggi. Banyak driver dari perusahaan transportasi berbasis aplikasi yang juga berasal dari ojek pangkalan. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan ojek pangkalan tidak berpendidikan atau tidak santun. Tapi maksud saya dengan kultur budaya ojek pangkalan yang lebih senang menunggu penumpang datang, tidak semua driver perusahaan transportasi berbasis aplikasi memiliki kesadaran untuk bersaing dan berkompetisi.

Itu artinya meningkatkan kualitas pribadi dengan cara meningkatkan kualitas pelayanan termasuk diantaranya berbicara dengan santun kepada pengguna aplikasi transportasi, serta meningkatkan pengetahuan terhadap rute jalan. Kesadaran dari para driver untuk mengupdate dirinya adalah penting karena seiring dengan kecepatan dari perusahaan aplikasi berbasis transportasi dalam merekrut driver baru, mungkin tidak ada kesempatan untuk memberikan pelatihan secara massal kepada seluruh driver. Tetapi, tetap saja penting bagi perusahaan transportasi berbasis aplikasi untuk tidak hanya meningkatkan kuantitas drivernya, tetapi juga meningkatkan kualitas dari para drivernya.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s