Bisakah Uber Eat Menjadi Pesaing Go-Food?

foods-apps

Setelah kemunculan Grab pada aplikasi pemesanan dan antar makanan dengan Grab Food, santer terdengar wacana Uber untuk masuk kedalam pasar ini juga dengan Uber Eat. Sebelumnya Uber memang sudah hadir dengan UberMartabak dan UberRawon. Disaat Food Panda mengibarkan bendera putih, bisakah UberEat nantinya memberikan persaingan yang sengit kepada Go-Food?

Dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul Akankah GrabFood Menjadi Pesaing Hegemoni GoFood? GoJek dan Grab sama-sama mengandalkan kekuatan dari jumlah driver yang banyak. Selain itu jumlah pengguna yang banyak juga menjadi potensi yang besar dari GrabFood untuk bersaing dengan GoFood. Kedua aspek tersebut saja, sudah menjadi senjata yang ampuh untuk menggeser posisi aplikasi pemesanan makanan lainnya.

Tapi berdasarkan survey kepada 400 pengguna aplikasi pemesanan dan makanan, terdapat sebanyak 182 responden (45,50%) hanya memiliki aplikasi Go-Jek untuk memesan makanan. Angka ini sangat jauh apabila dibandingkan dengan jumlah responden yang hanya memiliki aplikasi Grab maupun aplikasi inhouse dari restoran yang masing-masing berjumlah 4 dan 9 responden (1% dan 3%). Sebanyak 205 responden (50%) mengaku memiliki berbagai aplikasi (mixed use).

Hal ini seolah menunjukkan bahwa aplikasi Go-Jek kalah bersaing. Namun secara lebih rinci, sebanyak 387 responden (96,75) mengaku menggunakan Go-Jek, 149 responden (37,25%) mengaku menggunakan Grab 96 respoden (24%) mengaku menggunakan aplikasi inhouse dari restoran dan 5 responden lainnya menggunakan aplikasi pemesanan dan antar makanan seperti Food Panda, dan Klik-Eat. Artinya  jumlah pengguna Go-Food sangatlah signifikan.

Secara lebih spesifik pada responden wanita yang memiliki aplikasi pemesanan makanan secara umum 54,87% masuk pada lain-lain yakni yang memiliki Go-Jek, Grab dan Aplikasi inhouse dan yang lainnya. Disusul pada responden yang hanya memiliki aplikasi Go-Jek 54,87% dan hanya memiliki aplikasi inhouse dari restoran 2,1% dan persentase terkecil 0.43% yang hanya memiliki Grab 0,43%. Dari hasil responden maka dapat di ambil kesimpulan responden wanita lebih umumnya lebih menyukai aplikasi lebih dari 1 selain hanya memiliki Go-Jek.

Sedangkan pada responden laki-laki Dalam melakukan pemesanan makanan, responden secara umum 50% hanya memiliki aplikasi Go-Jek untuk memesan makanan, angka ini sangat jauh apabila dibandingkan dengan responden yang hanya memiliki aplikasi Grab maupun hanya memiliki aplikasi Inhouse dari restoran yang masing-masing hanya mendapatkan 1% dan 2%. Kemudian sebesar 47% responden memilih lain – lain, namun apabila melihat data yang penulis dapatkan, responden tersebut juga seluruhnya memiliki aplikasi Go-Jek namun dibarengi juga dengan memiliki aplikasi kompetitor lain. Jadi dapat penulis simpulkan bahwa mayoritas responden pria memiliki aplikasi Go-Jek.

Ketika ditanya faktor-faktor apa yang menjadi pertimbangan utama para responden dalam memilih aplikasi pemesanan makanan yang dipergunakan, 131 responden atau 33% responden memilih Go-Food karena faktor jumlah restoran. Faktor biaya menjadi pertimbangan selanjutnya dengan 108 responden atau 25%. Jumlah driver hanya menjadi pertimbangan utama dari 59 responden. Artinya, jika ingin mengalahkan Go-Food, faktor pertama yang perlu menjadi perhatian adalah memperbanyak jumlah restoran. Dengan 37.000 mitra restoran yang dimiliki oleh Go-Food saat ini, nampaknya hegemoni Go-Food masih akan kokoh.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s